Postingan

Kumpulan Puisi Yesi Anggraini Yunengsih

Gambar
Wanita Dalam Jiwa Oleh: Yesi Anggraini Yunengsih 
Hati yang lembut jiwa yang tenang Berseri fasih menelisik bumi Aku yang masih berhati suci Juga hendak memikirkan indahnya hari esok
Sungguh tenang dalam diam Melihat celah yang kian terang Di  raut wajah yang memberikan semangat Teramat aku melebihi kasihnya Yang sediaku nobatkan sebagai wanita dalam jiwa


Padang, 28 Desember 2016-12-30


Mami Oleh: Yesi Anggraini Yunengsih
Aku tidak perlu merebutkan kursi itu Karena saatnya berlian itu berkilau padaku Senyum yang tidak akan pernah usai Canda yang bercawan megah Hanya teruntuk aku
Segalanya hanya terukir indah Pada detik yang terus berlalu Aku terbawa kisah di lantai rumah megah ini Kepada sosok yang kusebut Mami Harum jiwamu guncangkan bumi

Padang, 30 Desember 2016

Tengah Malam Oleh:  Yesi Anggraini Yunengsih
Setiap hari aku yang terjaga kasihnya Padahal waktu sengaja berlalu Menghabiskan masa yang sulit ini Namun banyak kata yang membuat bangga

Kontribusi dan Eksistensi Pemuda terhadap Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang diikrarkan dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berbunyi“Kami putra dan putri Indonesia, menjujung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Artinya, pada saat itu juga bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa nasional Indonesia dan menjadi bahasa pemersatu dari perbedaan ragam suku dan bahasa. Pendapat ini selaras dengan Arifin (2015:5) dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, BAB XV pasal 36 bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Sejarah membuktikan bahwa bahasa Indonesia telah berhasil mengikuti keragaman bangsa Indonesia dalam suatu semangat nasionalisme. Bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antara beratus-ratus bahasa Nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa Ibu. Sehingga, penting tidaknya suatu bahasa seperti jumlah penutur, luas penyebaran, dan peranannya sebagai sarana ilmu, seni sastra dan pengungkapan budaya (alwi, dkk, 2008:1). Melihat penjelasan di atas, menyataka…

Puisi perampas hati~Hanya Rinduku, Kau Kubur Dalam Malam

Gambar
Hanya Rinduku, Kau Kubur Dalam Malam!

Seharusnya kita melepaskan siksa, siksa dari rindu yang tak terungkap, aku lelah dalam gelisah, setelah mimpi-mimpi kelam kita.  Aku mengenal waktu tanpa rintang, penuh harap mimpi menjadi kenyataan.
Tapi, ku rasa tak mungkin.  Karena seluruh rasa sudah kau benamkan di sebuah rindu yang terbuang.  Mungkin rinduku dan seluruh cintaku untuk dikenang dalam bayangan, berteriak di tengah hujan, mungkin itulah rinduku.
Lalu, dengan begitu mimpi yang dulu seperti meraih bintang, sekarang bisa menjadi bias-bias lintasan sinarnya saja.  Begitulah rasa sepanjang umurku yang menjadikanmu sebagai bintang di kala terang.  Aku salah, karena bintang seharusnya ada di setiap malam, tapi itulah wujud tawaku melewati langit dan seuntung hidupku.
Prakara mudah, tapi sulit bagiku.  Karena hatiku sedang pilu dan dibolak balikkan oleh masa lalu.  Aku tidak begitu yakin bisa, karena aku tidaklah seperti bidadari yang bisa tertawa dan sebisanya mewarnai hidupnya. Karena…

Syasya du du du Aku Rindu

Gambar
Kepada pohon yang berdiri kekar, daun hijau sesalkan gugurnya. Kepada air yang dingin, kini sesalkan cahaya panaskan sejuknya.
Keringpun menyatu dalam kerinduan. Basah bertukar ingin dianginkan.  Pasir hitam isyarat alam, sejengkal kasihku butakan luka, pada rinduku lagukan, akulah syasya du du du...
Syasya du du du, aku rindu
Syasya du du du, aku rindu
Menatap langit berdesir pilu, tawankan gelapnya serukan malam. Tersenyum sepi jiwaku kini, berderam bumi terbelah dua.

Padang,  23 Februari 2017




Puisi mistis ini kembali dinyanyikan dengan judul Di bawah Ficus Benjamina

Gambar

Puisi ini berjudul Kembalikan Moral Negeri ini!

Aku atas namaku yang selalu berpikir
Adakah alasan untuk negeriku menolak?
Adakah alasan untuk negeriku untuk bangkit?
Menolak dari ketidakadilan
Bangkit dari keterpurukan
Yang sampai saat ini hanya sebatas sentuhan moral yang rusak
Sentuhan yang menyudutkan isi sila
Pancasila!

Seumpanya aku juga harus berbincang kepada sila
Mungkin aku akan katakan " Bersabarlah!"
Maka aku jauh lebih ingat
Seberapa besar orang-orang mencintai negeri ini dengan hangat
Maka aku jauh lebih ingat
Seberapa besar orang-orang yang merusak jati diri negeri ini

Aku hanya risih
Setelah adanya dunia yang berbeda
Dunia itu seakan ingin menghentikan perjuangan
Sama halnya,
ideologi yang dulunya janji



                               Padang, 7 Desember 2016